02
JAN
2015

SEBUAH CATATAN AKHIR TAHUN

by :
comment : 0

Saya ingin mengakhiri tahun ini dengan merenungkan kembali nasihat Imam Al-Ghazali, “…yang jauh itu waktu, yang dekat itu mati, yang besar itu nafsu, yang berat itu amanah, yang mudah itu berbuat dosa, yang panjang itu amal saleh, dan yang indah adalah saling memaafkan.”

Mari kita tulis ulang lagi.

Yang jauh itu waktu. Bisakah kita mengingat-ingat apa yang persisnya kita lakukan setahun yang lalu? Apa warna baju yang kita kenakan? Siapa orang yang kita ajak bicara pada hari itu? Bagaimana corak perasaan kita? Tanpa rekaman gambar, suara, atau tulisan, betapa sulit mengais-ngais kembali ingatan dan perasaan dari 364 hari yang lalu. Baiklah, barangkali kita bisa memperpendek jaraknya: Apa yang terjadi tepat sebulan yang lalu? Seminggu yang lalu? Kemarin atau enam jam silam? Betapa jauh jarak diri dengan waktu, betapa singkat usia pikiran dan perasaan manusia dalam hidupnya.

Yang dekat itu kematian. Di hari ketika longsor menerjang sebuah desa di Barjarnegara, di manakah sang maut menunggu untuk menjemput nyawa para korbannya? Di antara 1,367 km jarak Surabaya-Singapura, 850 mil jarak terbang pesawat udara, pada titik dan koordinat berapa sebenarnya kematian menjemput paksa 162 penumpang AirAsia QZ8501? Kita tidak tahu persis. Hanya bisa menduga-duga musababnya. Tetapi jelas sekali bahwa manusia hidup hanya sekali, sementara kematian begitu pasti. Kita barangkali bertanya-tanya, jika ‘mati itu pasti’ mengapa waktunya selalu misteri? Demikianlah, yang jauh itu waktu, kata Al-Ghazali, jarak pengetahuan kita dengannya tak pernah terdefinisikan satuan apapun.

Yang besar itu nafsu. Tubuh kita tak pernah bisa menampungnya. Hidup kita tak pernah cukup untuk menuntaskan hasratnya. Maka mari kita tulis ulang lagi, pikirkan sekali lagi, apa-apa saja yang sesungguhnya hanya kita inginkan dan apa saja yang benar-benar kita butuhkan dalam hidup ini? Barangkali hidup kita selama ini terlalu dikendalikan keinginan-keinginan yang lebih sering membuat kita menderita… sementara kita melulu mengabaikan kebutuhan dasar kita sebagai manusia yang sesungguhnya akan membuat hidup jauh lebih bahagia.

Yang berat itu amanah. Kita diutus ke muka bumi sebagai wakil Tuhan untuk menyebarkan kasih sayang, kebaikan dan kebijaksanaan. Sudahkah kita menunaikan peran mulia itu? Atau justru selama ini kita hanya menjadi si mahabenar bagi diri dan kelompok sendiri? Kita yang senang menuduh orang lain tukang fitnah padahal diri kitalah si bebal yang sesungguhnya, kita yang begitu mudah menganggap orang lain yang tak setuju sebagai beda kubu, kita yang begitu gampang menghantam orang lain yang tak sepaham, kita yang gemar menerakakan saudara-sudara sendiri yang seiman? Begitu berat amanah sebagai khalifah Tuhan di muka bumi, begitu besar nafsu ingin benar sendiri yang terus menjebak-jebak kita hingga merasa menjadi Tuhan di muka bumi!

Yang mudah itu berbuat dosa. Kita sering bertanya apa resep hidup bahagia, kita terlalu banyak mencari tahu bagaimana caranya untuk menjadi lebih tenang dan terbebaskan, tetapi kita tak pernah berhenti berbuat dosa.Apa itu dosa? Kata Nabi, dosa adalah apa-apa yang menjadikan hatimu gundah dan ragu-ragu. Dengan ini, barangkali kita tak perlu motivasi apapun, tak perlu membaca buku atau menghadiri seminar apapun untuk bisa hidup bahagia… Kita hanya perlu berhenti terlalu mudah berbuat dosa. Apapun itu.

Yang panjang itu amal saleh. Coba ingat-ingat lagi: Yang menyelamatkan hidupmu, yang membuatmu bertahan hingga hari ini, yang memberimu nafas dan kebahagiaan, adalah kebaikan-kebaikan yang pernah engkau lakukan pada dirimu sendiri dan orang lain. Bahkan sesuatu yang paling sederhana sekalipun, seperti sebuah senyuman, selalu membuat hidupmu lebih lapang dan usiamu lebih panjang. Dan kelak, apakah yang akan menyelamatkanmu ketika hari-hari tak ada lagi dan orang-orang yang kau sayangi tak bisa dimintai pertolongan? Kebaikanlah yang akan menyelamatkanmu dari segala penderitaan.

Yang indah itu saling memaafkan. Coba kita ingat-ingat lagi: Barangkali kita pernah menyakiti seseorang atau barangkali kita pernah disakiti seseorang. Barangkali ini waktunya untuk menyudahi semua yang belum sudah. Barangkali ini saatnya untuk mengobati diri kita sendiri. Maka sudahilah sedihmu, segera mulailah sesuatu yang baru. Tidak semudah itu memaafkan? Semua yang rusak, terbuang, dan terabaikan di masa lalu tak akan bisa diperbaiki kembali? Sudahlah, pemaafan memang bukan untuk mengubah masa lalu… tetapi untuk melapangkan masa depan.

Mari kita tuliskan lagi: …yang jauh itu waktu, yang dekat itu mati, yang besar itu nafsu, yang berat itu amanah, yang mudah itu berbuat dosa, yang panjang itu amal saleh, dan yang indah adalah saling memaafkan.

Selamat tinggal 2014. Selamat datang 2015.

Melbourne, 31 Desember 2014

FAHD PAHDEPIE

About the Author

Leave a Reply

*

captcha *