06
MAY
2015

Hidup dalam ucapan Syukur

by :
comment : 0

Bersyukur dalam segala hal?? Ah, rasanya hanya bisa diucapkan namun sulit untuk dipraktekkan. Banyak orang bisa bersyukur pada saat mengalami suka cita. Pada saat lulus ujian, naik pangkat, naik gaji banyak orang mengucapkan syukur bahkan ada yang membuat acara syukuran secara khusus. Bagaimana dengan hal yang tidak enak atau hal yang duka cita, apakah masih bisa bersyukur? Apalagi membuat syukuran secara khusus, mungkin orang akan menilai kita aneh bahkan mungkin kita dikatai sedikit “/”.

Pengkotbah 7:14 Pada hari mujur bergembiralah,tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang ini pun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.

Dari ayat diatas :
Nasib mujur dan nasib malang bukanlah hal yang luar biasa jika terjadi pada seseorang. Manusia akan selalu mengalami dua hal dalam hidupnya yaitu mujur dan kurang mujur. Hari mujur dan hari malang diijinkan Tuhan terjadi supaya manusia tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi dimasa depannya. Pada hari mujur Tuhan mengijinkan kita untuk bergembira, artinya Tuhan ijinkan kita untuk merasakan kebahagiaan. Pada hari malang/tidak baik ingatlah, renungkanlah apa maksudnya.

Dalam kehidupan kita, kita harus siap menerima segala keaadaan yang kita alami. Jangan biarkan keadaan kita membuat iman kita jatuh. Tuhan menginginkan kita untuk tidak sama dengan orang dunia. Itulah sebabnya orang yang benar-benar hidup dalam Tuhan akan dinilai aneh oleh orang dunia. Karena anak-anak Tuhan tidak melakukan hal yang lazim dilakukan oleh orang dunia.

Suatu ketika saya mendegar kesaksian seorang ibu yang merupakan seorang hamba Tuhan. Pada hari sabtu tengah malam suami dari ibu tersebut meninggal dunia sementara esoknya, hari minggu, si ibu dan anak-anaknya mendapat jadwal melayani Tuhan di gerejanya. Sehubungan dengan cintanya kepada Tuhan yang begitu dalam, si Ibu tidak mau jadwal pelayanannya di alihkan ke orang lain. Dengan tegar dia beserta anak-anaknya pergi melayani Tuhan di gereja. Ibu tersebut melayani Firman Tuhan sementara anak-anaknya melayani musik. Akibat dari itu si Ibu banyak mendapat sindiran dan perkataan negatip dari orang-orang maupun pihak keluarganya. Namun si Ibu tetap tegar, dia memang sangat cinta kepada suaminya tetapi ia lebih cinta kepada Tuhannya. Si ibu tidak sedih, dia tahu bahwa suaminya sudah disurga bersama Tuhan Yesus walaupun tadi dia meninggalkan mayat suaminya di rumah. Dari kesaksian tersebut saya melihat ada ucapan syukur yang dalam dari seorang Ibu walaupun sedang berada ditengah duka cita karena kepergian suami tercintanya.

Suatu ketika Ayub mengalami pencobaan yang berat. Anak-anaknya semua meninggal, hartanya habis, teman-temannya tidak peduli lagi. Yang paling menyedihkan istri tercintanya mengutuki dia, meninggalkan dia dan mengajak ayub untuk mengutuki Tuhannya. Namun satu hal yang dikatakan ayub, Ayub 2:10 Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa ayub tidak bersungut-sungut ketika keadaan yang tidak baik menimpa hidupnya, ayub menerima baik yang baik maupun yang buruk menimpa hidupnya, artinya apapun keadaannya Ayub senantiasa bersyukur kepada Tuhan.
Efesus 5:20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita 1 Tes 5:18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.

Jelas ayat ini mengajar kita:
– Untuk senantiasa bersyukur
– Untuk senantiasa menerima segala keadaa hidup kita.

Mengucap syukur dalam segala hal adalah wujut dari kepasrahan kita pada kehendak Tuhan. Mengucap syukur adalah kata yang senilai dengan “Biarlah kehendakMu yang jadi bukan kehendakku”. Saudara-sauara, yang selalu membuat manusia tidak bersyukur adalah kekuatiran. Kekuatiran bagaikan duri yang menusuk daging yang membuat hidup kita tidak tenang, tidak enak, TIDAK ADA SUKA CITA.

Matius 7:16 Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?
– Anggur adalah lambang dari suka cita, semak duri adalah lambang dari hidup yang penuh kekuatiran.
– Ayat diatas menunjukkan bahwa didalam kekuatiran tidak akan ada suka cita.

Filipi 4:6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segalahal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

Ayat ini mengajarkan jika ada sesuatu yang bisa membuat kita kuatir marilah kita nyatakan dalam doa
kepada Tuhan. Maka dengan demikian bibit kekuatiran itu tidak akan jadi tumbuh dalam hidup kita. Amin, Tuhan Yesus memberkati.

About the Author

Leave a Reply

*

captcha *